Warning: Creating default object from empty value in /home/melialau/public_html/cni-content/modules/config/config.php on line 30


STRATEGI MENJALANKAN BISNIS FRANCHISE

Kiat & Strategi Mengelola Gerai Franchise

Oleh : PUTU SUBADA KUSUMA, SH., KN (Master Franchise Melia Laundry Wilayah Bali)

Menjadi seorang franchisee (“penerima waralaba”) yang sukses adalah harapan/dambaan bagi setiap orang, demikian juga untuk mendapat untung dan segera baik modal (BEP) sebagaimana pertanyaan yang sering dilontarkan calon franchisee.

Untuk mendapatkan dan menjalankan usaha franchise disamping diperlukan modal berupa uang, idealnya juga harus memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang baik, halmana sangat dibutuhkan kelak didalam penerapan methode dan tatacara prosedur (SOP) yang ditetapkan franchisor (“pemberi waralaba”). Karena pada hakekatnya, menjadi franchisee berarti seseorang sudah siap menjadi entrepreneur. Artinya, sukses dan tidaknya usaha franchise sangat tergantung juga kepada seberapa besar kemauan franchisee untuk terlibat dan berusaha keras memajukan usahanya dengan konsep manajemen dan kepemimpinan yang baik.
Disamping harus memiliki kemampuan manajerial, seorang franchisee harus inovatif didalam menjalankan kegiatan usaha waralabanya/franchise agar produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pasar atau dibutuhkan pasar.
Sistem atau methode dan tatacara prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh franchisor tidak dapat berjalan dengan sendirinya tanpa kemampuan manajerial dan inovasi yang tinggi dari franchisee. Terlebih lagi pasal 4 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 12/M-DAG/PER/3/2006., tanggal 29 Maret 2006 telah menentukan bahwa “penerima waralaba utama wajib melaksanakan sendiri kegiatan usaha waralaba dan mempunyai paling sedikit 1 (satu) tempat usaha”.
Sehingga dengan demikian, franchisee tidak dapat menggantungkan sepenuhnya kegiatan usaha franchise yang digelutinya pada sistem atau methode dan tatacara prosedur (SOP) yang ditetapkan franchisor. Panduan/SOP yang diberikan oleh franchisor hanya menjadi sisi lain yang melengkapi manajemen untuk memudahkan operasional usaha bagi franchisee. Sehingga sistem atau medote dan tatacara prosedur/SOP tidak lebih sebagai alat untuk mencapai sukses franchisee, sedangkan yang menggerakkan alat tersebut tentu si penguasahanya (franchisee). Karena itu, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI),Anang Sukandar dalam bukunya : ”Franchising di Indonesia” menyebutkan sejumlah resiko yang kemungkinan dihadapi oleh franchisee ketika membeli hak waralaba. Diantaranya, resiko kehilangan uang, usaha merugi, dan konsumsi produk yang ditawarkan menurun. Anang juga mengatakan, membeli hak waralaba mengharuskan franchisee untuk menjadi seorang wirausaha, mempersiapkan waktu untuk terlibat penuh dalam usaha serta mau berinteraksi dengan banyak orang, baik itu karyawan, franchisor, supplier dan juga pelanggan.
Dengan demikian, menjadi franchisee bukan berarti menyerahkan sepenuhnya nasib usahanya kepada franchisor. Sayangnya, masih ada paradigma seperti itu, dimana franchisee sangat tergantung 100% pada franchisor. Sementara franchisee merasa dengan membeli waralaba, tugasnya selesai sehingga hanya menunggu setoran saja, itu tindakan yang salah atau keliru.
Sedangkan tanggungjawab franchisor adalah menyediakan SOP yang berlaku sebagai standar didalam menjalankan sistem usaha franachisenya. Sedangkan franchisor memberikan dukungan berupa bimbingan/pelatihan secara berkesinambungan. Hal inilah yang harus dipegang teguh oleh franchisor (lokal khususnya) bila hendak tetap menjaga eksistensinya, jangan sampai lupa diri yang akhirnya franchisor dalam membangun usaha franchise tidak lebih dari sekedar keinginannya untuk cepat memperluas usahanya dengan cepat menyebarkan nama usaha dengan mendirikan cabang-cabang. Seharusnya sudah tidak alasan lagi bagi franchisor yang tidak bertanggungjawab seperti ini, terlebih lagi hal ini sudah ditegaskan melalui penerapan persyaratan yang cukup ketat didalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 12/M-DAG/PER/3/2006., tanggal 29 Maret 2006 tersebut.

Jadi, dapat dipahami bahwa modal berupa uang saja belumlah cukup didalam menjalankan kegiatan usaha dengan mengatasnamakan franchise. Karena akhirnya semuanya berpulang kembali kepada franchisee.

Bagaimana taktik dan strategi yang akan diterapkan dalam menjalankan franchise agar segera menghasilkan uang, itulah yang harus dipertimbangkan dengan baik dan benar oleh calon franchisee sebelum seorang franchisee menamkan investasi kedalam kegiatan usaha franchise.

Janganlah bermimpi menjadi franchisee, bila anda tidak lebih hanya sebagai seorang pelepas uang, karena secanggih apapun sistem franchisenya sulit untuk berkembang bila tidak didukung oleh kemampuan manajerial dari franchisee. Sejumlah franchisee yang berhasil dan mampu membukukan penjualan dioutletnya masing-masing mengaku punya keterlibatan yang tinggi di usahanya.

Dari media kerap kita baca tentang kegagalan seorang franchisee didalam menjalankan kegiatan usaha waralaba/franchise, entah karena miss management atau memang sistem franchise yang dipilihnya tersebut belum teruji dengan baik dan benar, ujung-ujungnya franchisee menyalahkan franchisornya, hal ini tidak sepenuhnya benar juga tidak sepenuhnya salah, menurut hemat kami sepanjang franchisor telah menyiapkan SOP dengan baik dan benar dan juga franchisee telah menjalankannya dengan baik dan benar, maka tidak ada alasan bagi franchisee untuk gagal.

Menjadi franchisee yang memiliki jiwa entrepeneur didalam menjalankan sebuah usaha franchise, setidaknya harus mengerti betul seluk beluk usaha franchise yang digelutinya tersebut, terlebih lagi sekarang untuk mendapatkan informasi tentang apa dan bagaimana franchise itu sangat mudah didapat, baik itu melalui berbagai seminar, pameran, juga media cetak, berbeda halnya pada tahun-tahun sebelumnya ketika usaha franchise tidak semarak sebagaimana yang terjadi tahun-tahun belakangan ini, berbagai media kerap mengulas tentang usaha franchise baik asing maupun lokal, adalah majalah INFO FRANCHISE sebagai salah satu yang dapat menjadi referensi handal disamping media lainnya, referensi dan mengedukasi diri adalah sangat penting untuk menjadi mengerti, sebelum menjalankan usaha franchise, sehingga franchisee dapat menerapkan konsep bisnis yang akan digelutinya dengan tepat dan benar melalui pemahamannya tersebut.
Pemahaman tentang usaha franchise adalah modal dasar untuk terjun kedalam usaha franchise, dan menjalankannya hingga menghasilkan profit yang merupakan idaman franchisee, pemahaman saja tidaklah cukup bila tanpa memiliki visi dan misi strategis didalam menerapkan strategi bisnisnya, kemana arah bisnisnya kedepan itulah yang harus dipikirkan dengan matang, agar tidak sekedar ikut-ikutan alias latah didalam hiruk pikuknya tawaran bisnis franchise baik asing maupun lokal. Terutama franchise lokal kami akui sangat menggoda naluri bisnis seseorang.
Bilamana dapat menerapkan stategi bisnis dengan baik dan benar, franchisee tidak akan kalah bersaing dengan usaha franchise sejenis lainnya dari luarnegeri sekalipun.
Setiap orang memliki talenta bisnis, tergantung bagaimana yang bersangkutan membangun talentanya, bisnis tidak mutlak harus bakat, tapi juga kemauan, kemauan untuk belajar dan selalu belajar seperti yang dikemukakan tedahulu bahwa untuk mengerti usaha franchise dapat dilakukan melalui berbagai seminar, pameran, dan atau membaca.
Demikian juga dalam hal strategi bisnis, hal yang sama dengan diatas dapat juga dilakukan, dan tidak kalah pentingnya adalah riset pasar terlebih dahulu, terutama terkait tentang keberadaan usaha sejenis, kemudian juga bagaimana pasarnya (peluang usaha). Akan tetapi sebagai usahawan sejati diperlukan tekad yang tinggi untuk menjadi sukses dengan riset yang telah dilakukannya tersebut, terkadang seorang pengusaha/wirausaha harus berpacu ditengah persaingan melalui usaha sejenis, sepanjang pasarnya jelas dalam arti animo masyarakat terhadap usaha sejenis masih tinggi, maka lakukanlah !
Dalam hal menghadapi situasi yang sedemikian itu, terapkan sesuatu yang berbeda dari usaha sejenis yang telah ada sebelumnya, yakni melalui penciptaan keunikan produk, dengan demikian diharapkan konsumen akan mendapatkan sesuatu hal yang berbeda dari usaha yang sejenis, sehingga konsumen mendapatkan nilai lebih dari sekedar yang telah dibayarkannya, begitulah salah satu prilaku konsumen kita.

Demikian halnya dengan kami selaku Master franchisee MELIA Laundry & Dry Cleaning di wilayah Bali, untuk menetapkan pilihan bisnis melalui franchise ini, terlebih dahulu “mengedukasi diri tentang apa dan bagaimana usaha franchise itu”. Adalah Bapak Burang Ryadi, yang kala itu kami baca sebuah penawaran seminar melalui salah satu harian Nasional tentang penyelenggaraan seminar Franchise di Gedung Graha Niaga Jakarta. Dari hasil seminar, kemudian kami mendatangi pameran franchise yang kebetulan diadakan di Grand Bali Beach Hotel Denpasar Bali, setelah mempelajari beberapa bisnis frofile (prospektus) usaha franchise yang kala itu ikut pameran, maka jatuhlah pilihan kami kepada MELIA Laundry & Dry Cleaning.

Kenapa harus Laundry ?

Berawal dari pengalaman sebagai konsumen jasa laundry franchise asing, sekalipun mereka mematok harga layanan yang cukup tinggi itu, namun dari pengamatan kami ternyata layanannya sangat dibutuhkan masyarakat, dan secara umum untuk kalangan tertentu dengan berbagai alasan dan keperluan jasa laundry disamping sebagai gaya hidup ternyata jasa laundry bagian dari kebutuhan hidupnya. Kami berkesimpulan bahwa usaha laundry sangat dibutuhkan oleh berbagai kalangan, sehingga menurut hemat kami bisnis laundry tidak ada matinya, terlebih lagi dengan kesibukan yang tinggi dari masyarakat dengan keterbatasan waktu dan lahan serta biaya listrik yang terus meningkat, disatu sisi kebutuhan akan kebersihan dan kerapihan busana/pakaian bagi kebanyakan orang sudah menjadi prioritas, berawal dari pengalaman sebagai konsumen dan riset pasar itulah, kemudian memunculkan ketertarikan mencoba usaha laundry.

Usaha franchise menjadi pilihan, karena dengan franchise diharapkan franchisee mendapat kesempatan untuk memasuki sebuah bisnis dengan cara cepat dan biaya lebih rendah dengan produk atau jasa yang telah teruji dan terbukti kredibilitas mereknya. Lebih dari itu, franchisee secara berkala menerima bantuan manajerial dalam hal pemilihan lokasi bisnis, desain fasilitas, prosedur operasi, pembelian dan pemasaran.

Diawali dengan riset pasar yang kami lakukan, dan dari riset pasar harus disadari bahwa persaingan jasa laundry saat ini sangat ketat, demikian juga di Bali. Tapi persaingan tidak menyurutkan langkah kami untuk menekuni usaha laundry, karena dari riset pasar, kami yakin mampu bersaing dengan “penciptaan keunikan produk”, maka untuk segera merealisasikannya lalu kami meminang MELIA Laundry & Dry Cleaning yang saat itu sedang road show di Grand Bali Beach Hotel, Sanur, Bali.

Melalui penciptaan keunikan produk, dengan tidak mengurangi hakekat dasar SOP yang sudah ditetapkan franchisor, dilakukan tidak hanya melalui penyediaan ruang outlet yang nyaman, bersih dan eklusif sesuai dengan pasar yang hendak disasar yakni menengan ke atas, dilengkapi dengan sistem layanan 24 jam, layanan same day service tanpa biaya tambahan kecuali proses kilat, layanan valet service dengan menggunakan mobil box yang didesign khusus untuk menjaga image dan juga spedamotor dan tidak kalah menariknya bahwa kami mencuci dengan air yang telah melalui proses penyulingan terlebih dahulu, melalui penerapan teknologi Water Treatment System, dengan dikombinasikan penerapan teknologi Riverse Osmosis System untuk meminimalisir kandungan zat besi dan kaporit yang umumnya terkandung pada air, diharapkan dengan melalui penyulingan air tersebut akan meminimalisir endapan yang merugikan warna kain dan serta kain yang bersangkutan, sehingga proses pencucian menjadi lebih maksimal, dan pakaian konsumen menjadi terawat secara maksimal, sekalipun kami dalam pencucian menggunakan bahan dasar pencuci produk “ECOLAB” dari USA yang dikenal Dunia sebagai bahan pencuci bersertifikat ramah lingkungan.

Untuk mengenalkan keunikan produk, kami “memperkuat brand”, agar masyarakat sekitar menjadi tahu bahwa Melia adalah laundry service, kami berperan aktif mensosialisasikan layanan Melia kepada publik, melalui keterlibatan dalam berbagai sponsor event yang diselenggarakan event organizer daerah setempat demikian juga melalui media elektronik dan cetak melalui program kerjasama produk. Wilayah marketing kami batasi pada area sekitar yang menjangkau layananan kami, hal ini kami lakukan untuk semakin cepat menguasai masyarakat yang bermukim didaerah layanan kami, sambil mengadakan evaluasi atas efektivitasnya kami perluas pengenalan brand Melia dari waktu kewaktu, baik melalui leaflet, stiker,membership dan pemberian reward kepada loyal customer.

Enam bulan pertama sudah terlihat efektivitas dari upaya kami di dalam memperkuat brand tersebut, terbukti dari sejak bulan pertama beroperasi biaya operasional sudah otomatis teratasi melalui hasil usaha.

Kemudian, kegiatan memperkuat brand kami imbangi dengan “membuat profil franchise” khusus company profile workshop MELIA Laundry wilayah Bali, yakni dengan membuat website 
http://www.melia-laundry.com/, dengan fasilitas buku tamu dan cetak otomatis untuk mendapatkan free voucher bagi yang ingin mencoba layanan kami, dan juga registrasi membership secara online.
Dengan profile secara online ini diharapkan mempermudah bagi konsumen kami untuk berinteraksi, demikian juga calon konsumen baik perorangan maupun perusahaan didalam merencanakan kerjasama dengan Melia Laundry, karena disadari atau tidak dunia kedepan adalah paper less, dan juga dengan mengingat penetrasi internet dari tahun ketahun semakin meningkat.

Setelah kami merasa siap untuk melayani konsumen, dalam rangka “mengembangkan jaringan franchise” atas layanan workshop Melia Laundry Cabang Bali, lalu kami tawarkan sub-franchise, dengan sistem pendirian outlet untuk didaerah yang masih tercakup oleh layanan Workshop kami dan ternyata peminatnya lumayan besar, dimana saat ini sudah berdiri 9 outlet di wilayah Workshop MELIA Laundry Cabang Bali yang kami pimpin. Pendirian outlet tersebut mampu mendongkrak omset sampai 50%. Khusus untuk pendirian outlet, kami menerapkan persyaratan khusus, seperti pemilik outlet harus pernah sebagai pelanggan laundry aktif minimal di Melia Laundry atau setara dengan layanan Melia Laundry, halmana untuk memahami bagaimana melayani konsumen dengan baik dengan belajar dari selama menjadi konsumen. Disamping pemilihan lokasi yang tepat, kami juga menerapkan standar design outlet secara ketat dengan design khusus untuk menjaga exclusivitas konsumen kami secara menyeluruh dari arti layanan antara workshop dengan layana outlet adalah sinergi dan standar,dan juga standarisasi dari leaflet dan material promisi lainnya, sehingga diharapkan dengan standarisasi tersebut upaya memperkuat brand MELIA semakin cepat dapat dilakukan.

Memasuki bulan ke-enam tongkat kepemimpinan kami serahkan kepada Direktur yang tidak lain adalah istri sendiri yang mengoperasikan Workshop dibawah bantuan beberapa supervisor, sedangkan kami selaku franchisee sebagai pengawas manajemen. Sehingga tidak lepas 100%, namun dalam hal terjadi kesulitan dalam operasional setidaknya kami selaku franchisee mengetahui dimana kesulitan terjadi dan bagaimana cara mengatasi kesulitan tersebut. Tindakan pengawasan kami lakukan dengan memanajemen konsumen khususnya menampung dan menangani segala keluhan yang mungkin terjadi melalui penyediaan kotak layanan secara manual maupun elektronik seperti layanan SMS yang langsung kepada franchisee. Juga dari waktu ke waktu kami senantiasa mengawasi kualitas hasil produk dari pakaian kami sendiri yang merupakan produk workshop kami, disamping melakukan evaluasi atas kinerja karyawan secara berkesinambungan dari waktu ke waktu, dan tidak segan-segan kami memberikan reward bagi karyawan yang berprestasi, hal ini penting untuk menciptakan rasa memiliki disamping dari sisi penghargaan atas pengabdian.

Dalam rangka memperkuat brand, kami juga lakukan dari lingkungan keluarga kami selaku franchisee, yang harus senantiasa rapi dengan menggunakan produk sendiri MELIA Laundry, hal ini berdampak positif kepada relasi yang secara tidak langsung memperhatian cara keluarga kami berpakaian dan stidaknya meyakinkan mereka akan hasil produk yang kami ciptakan.

Dengan proses riset yang tepat dan penciptaan keunikan produk, maka dalam setahun kami sudah mampu bersaing dengan waralaba asing dalam bidang usaha sejenis, dan justru sejak mulai bulan pertama beroperasi, kami sudah berhasil mengatasi pengeluaran biaya operasional dengan sendirinya dari hasil usaha tersebut.
Dan dalam setahun berdiri Workshop Melia Laundry Cabang Bali sudah berhasil memasang 9 outlet di seputaran kota Denpasar, yang mana dengan penempatan outlet-outlet tersebut diharapkan Melia Laundry Cab Bali, dapat lebih mendekatkan kepada konsumennya didalam pelayanannya.

Sumber: putu-kusuma.blogspot.com

 

 

 
Pada tanggal 6 September 2007 bertempat di Hotel Crown Plaza Hotel Jakarta, Asosiasi Franchise Indonesia dan Majalah Info Franchise Indonesia menyelenggarakan hajatan Indonesia Franchisee Award 2007.

Dalam acara tersebut, kami selaku pemegang hak Waralaba (Franchisee) MELIA Laundry Regional Bali mendapatkan 2 award yakni sebagai berikut :

1. The Best Franchisee MELIA Laundry

2. Top Ten Indonesian Franchisee Of The Year 2007

Kompetisi berlangsung melalui dua tahap, yakni secara tertulis melalui pembuatan makalah tentang Tip dan Trik Menjalankan Gerai Franchise, kemudian dilanjutkan dengan presentasi bisnis dihadapan dewan juri yang terdiri dari 10 orang.

Materi penilaian adalah menyangkut manajemen dan perputaran bisnisnya.

Setahun menjalankan bisnis Franchise atau sebagai Franchisee Melia Laundry Regional Bali dengan penerimaan award tersebut kami merasa bangga, dan mudah-mudahan dengan penerimaan award tersebut dapat memacu kami bekerja lebih baik dan lebih berprestasi.

Sumber: http://putu-kusuma.blogspot.com/